Kamis, 22 September 2011

Arti Sebuah Kemerdekaan

Arti Sebuah Kemerdekaan
Categories: Cerpen
Suasana begitu hening, angin semilir, dan bintang bertebaran di langit. Di tengah alun-alun kota terlihat beberapa keluarga bersuka cita menikmati malam menjelang hari kemerdekaan Indonesia. Sedangkan aku asyik memandang di tengah keramaian alun-alun dengan menikmati teh poci, sambil mengepulkan asap rokok di sebuah warung di pojok jalan.
Seketika lamunanku terhenti, ketika kulihat
sesosok lelaki berdiri di didepanku dan memelototiku. Ternyata dia adalah Herman teman SMA dulu, setelah sekian tahun menghilang, tiba-tiba dia muncul dengan pakaian agak lusuh, dengan rambut tidak begitu rapi.
Aku kembali teringat terakhir kali melihatnya, yaitu ketika di ajar oleh Pak Wanto guru sejarah. Herman adalah anak rajin dan pintar terbukti prestasi akademik dan non akademik berhasil di sabetnya, tak hanya itu dia juga menjadi sorotan di sepanjang teras halaman dari kelas ke kelas setiap saat karna ketampanannya, dan tak sedikit yang dibuatnya terpesona terutama para kaum hawa.
Hingga suatu lusa, entah mengapa Herman datang terlambat sampai pukul 7.30, sedangkan hari itu di ajar oleh Pak Wanto, guru yang terkenal sebagai “Kill Teacher” oleh para murid-murid itu langsung marah di buatnya karna Herman masuk kelas begitu saja.
“Herman sudahkah kamu mengucapkan salam sebelum masuk kelas!,” dengan nada tinggi.
Dengan seketika Herman kembali keluar dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. Herman hari itu terlihat agak lusuh dan mukanya pucat tidak seperti biasanya. Sebelum di perbolehkan duduk, Herman di beri tugas oleh Pak Wanto.
“Herman sekarang tugasmu mempresentasikan tentang “Kemerdekaan di Mata Remaja” yang saya berikan seminggu lalu!,” Suruh Pak Wanto. Merasa Pak Wanto guru sejarah ini benar-benar marah padanya, Herman pun langsung menuruti perintahnya tanpa protes sedikitpun, meskipun ia tahu tugas itu sebenarnya di berikan kepada siswa yang nilainya jelek, sebagai penambahan nilai.
Dengan sedikit memutar otak, dia dapat sedikit gambaran tentang apa yang akan disampaikan. Puluhan mata mulai memandang sosok Herman yang berdiri sendiri di depan kelas dan memasang konsentarasi penuh terhadap penjelasannya.
“Selamat pagi semua, langsung saja mengenai topik kali ini tentang kemerdekaan. Merdeka adalah kata benda dimana saat sebuah negara meraih hak penuh atas seluruh wilayah bagian negaranya, yaitu dimana setiap orang mendapatkan hak, untuk mengendalikan dirinya sendiri tanpa campur tangan orang lain atau tidak bergantung dengan pada negara lain. Negara kita sekarang belum mencapai kemerdekaan secara penuh, dimana kita masih di jajah oleh saudara kita sebangsa dan setanah air yaitu para koruptor.
“Kemiskinan, kelaparan terjadi di berbagai wilayah, padahal negara kita terkenal dengan kekayaan alamnya yang berlimpah. Penjajahan dilakukan secara samar mulai dari dominasi politik, militer, ekonomi, budaya untuk di eksploitasi, dan juga dengan cara memunculkan ketergantungan ekonomi yang besar.
Sambil menghela nafas, teman-temannya ikut terhanyut dengan petuah yang belum pernah mereka sadari sebelumnya.
“Secara politik negara kita belum merdeka!, salah satu kunci untuk memperoleh kemerdekaan secara penuh adalah kita para pelajar dan penerus bangsa yang tidak mementingkan diri semata, tapi peduli akan lingkungan sekitar.
“Hanya itu yang dapat saya berikan, mohon maaf atas segala kesalahan dan selamat pagi.” spontan tepuk tangan memeriahkan kelas.
Itulah yang terakhir ku ingat dari Herman, sejak itu dia tidak pernah menampakkan diri, entah dia pergi kemana, tapi sekarang di berdiri di depanku memandangiku.
Tiba-tiba lamunanku terhenti ketika dia bicara kepadaku.
“Apa aku tidak salah?, kau dian kan!”
“Kamu Herman temen waktu SMA itu?,” kataku hampir tak percaya.
Aku heran Herman begitu lusuh, rambutnya tidak tertata, wajahnya pucat dan kurus.
“Herman duduk sini, pesanlah teh poci dulu!,”
“Tentu, terima kasih”
“Satu teh Poci lagi, Bu!”
Herman belum beranjak.
“Ayo ambil makan, jangan malu-malu!”
Aku kembali heran di buatnya, ketika kulihat cara makannya yang begitu lahap, seperti tidak makan dua atau tiga hari, tawaran kedua pun di terima dengan senang hati.
Kemudian aku mulai membuka obrolan.
“Man, sudah lama kau menghilang, sebenarnya kau pergi kemana?”
“kau boleh percaya boleh tidak, tapi aku akan cerita apa adanya,” kata Herman.
“kamu masih ingat kan ketika terakhir ku terlihat di sekolah?, Nah, kamu tahu kenapa waktu itu aku telat?”
“Tidak tahu, kamu kenapa waktu itu?,” tanyaku.
“kamu kan tahu satu-satunya keluargaku adalah ayahku, yang bekerja sebagai tukang becak. Nah, pagi itu becak ayahku di angkut oleh petugas ketertiban dan ayahku melakukan perlawanan yang akhirnya beliau ikut di tangkap.”
“Setelah kejadian itu aku putus sekolah dan mencoba memulung untuk mengumpulkan uang satu rupiah demi satu rupiah agar bisa mandiri, setelah tabunganku cukup banyak, aku dirikan warung kecil-kecilan, dan alhamdulillah mulai ramai ketika tiba-tiba…”
“Tiba-tiba bagaimana?,” pintaku penasaran.
“Warungnya kena razia ketertiban, seluruh bangunannya di angkut oleh petugas, di naikkan ke truk dan tak pernah di kembalikan…”
“Sekarang aku sebatang kara”
“Aku salah apa, sehingga apa yang kumiliki harus di hancurkan? Apakah aku tidak berhak menikmati kemerdekaan negeri ini?,” herman menatapku dengan menangis sendu.
Herman ku rangkul, aku ikut sedih, walaupun aku kurang percaya dengan apa yang diceritakannya, sehingga aku dapat mengambil kesimpulan dari perkataan Herman waktu SMA itu, bahwa negara kita belum merdeka selama penindasan terjadi dimana-mana.
Dan kini, akupun tahu akan arti sebuah kemerdekaan.
By : blog.unnes.ac.id/pojokkampus/?p=4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar